| Sidang Itsbat Penentuan Awal Bulan Ramadhan 1430 H |
|
|
|
Ditetapkan, Awal Ramadhan Jatuh Pada
Hari Sabtu
Menteri
Agama RI, HM. Basyuni (kedua dari kanan) saat memimpin pelaksanaan sidang
itsbat awal Ramadhan 1430 H
Jakarta | badilag.net (20/8)
Pemerintah dengan SK Menteri Agama Nomor 121 Tahun 2009 telah
menetapkan bahwa tanggal 1 Ramadhan tahun ini jatuh pada hari Sabtu, 22 Agustus
2009.
Hal tersebut disampaikan secara resmi oleh Menteri Agama RI,
HM. Basyuni saat sidang itsbat penetapan tanggal 1 Ramadhan 1430 H yang juga
dihadiri oleh Menkominfo, HM. Nuh, para Duta Besar/Ketua Perwakilan Negara
Sahabat, Ketua MUI, Umar Shihab, Perwakilan DPR RI, ormas-ormas Islam serta
instansi terkait di Operation Room Lt 2, Depag RI, malam tadi, (20/8).
Tanpa perdebatan yang panjang, peserta sidang terutama ormas-ormas
Islam menerima hasil keputusan tersebut. Memang, seperti sudah diprediksi oleh
berbagai kalangan dari awal, penentuan awal Ramadhan untuk tahun ini kecil
kemungkinan dijumpai perbedaan.
Tidaklah beralasan, data hisab yang bisa dijadikan sebagai
pedoman awal dalam pengamatan hilal tidak ditemukan data yang bersifat
anomali, hasil perhitungan relatif sama dan bernilai negatif, sehingga
dari data hisab tersebut, bisa dikatakan mustahil hilal dapat terlihat. Dan
ternyata hal tersebut terbukti.
Namun pada kesempatan lain, tidak menutup kemungkinan masih
ada celah perbedaan dalam penentuan awal Ramadhan, Syawal maupun Dzulhijjah
yang dapat menggangu persatuan umat.
Untuk itu, harap Menag, hindari perbedaan, ataupun kalau ada
perbedaan itu jangan sampai menimbulkan perpecahan umat. Disamping itu, saran
T. Djamaluddin, diperlukan keterbukaan ormas-ormas Islam untuk menetapkan
kriteria hasil perhitungan yang baku sehingga bisa diterima oleh semua kalangan
serta pembenahan terhadap ormas-ormas kecil dengan difasilitasi oleh Departemen
agama.
Data Hisab ![]()
Berdasarkan hasil perhitungan, baik itu hisab takribi,
tahkiki maupun kontemporer, ijtima menjelang awal Ramadhan 1430 H jatuh pada
hari Kamis, 20 Agustus 2009, bertepatan dengan tanggal 29 Sya'ban 1430 H
sekitar pukul 17:02 WIB. Pada saat matahari terbenam pada tanggal tersebut di
seluruh wilayah Indonesia posisi hilal masih di bawah ufuk, belum dapat
terlihata, dengan ketinggian hilal antara -01o54'00” - 00o42'00”.
Hal menarik, menurut Cecep Nurwendaya, Peneliti Planetarium
Jakarta dan anggota BHR Depag, walaupun ijtima terjadi sebelum matahari
terbenam, bukan berarti secara otomatis posisi bulan positif. Hal ini
disebabkan oleh karena posisi bulan yang jauh di selatan matahari, sehingga
azimut bulan terhadap matahari sangat besar.
Informasi Rukyat
Departemen Agama telah menetapkan 9 titik pengamatan hilal
yaitu Ternate, Kupang, Makassar, Condrodipo Gresik, Lamongan, Mesjid Raya
Semarang, Peneropongan bintang Boshca Lembang Bandung, Pantai Pelabuhan Ratu
dan Pantai Lhok Nga Aceh.
Berdasarkan informasi yang diperoleh badilag.net melalui
live streaming dari ke sembilan tempat tersebut serta informasi melalui sms
dari tim lapangan Subdit Syariah dilaporkan bahwa tidak satu orang pun perukyat
yang dapat melihat hilal.
Menkominfo, HM. Nuh beralasan ketidakberhasilan perukyat
dalam melihat hilal, disamping posisi hilal yang masih di bawah ufuk atau
beberapa derajat di atas ufuk adalah presisi alat, kondisi lapangan pada saat
merukyat dan keterampilan si observer itu sendiri, dan inilah yang paling
utama. (h2)
|
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|














